Feed on
Posts
Comments

Orasi Anak-anak Gelandangan

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiri saja menunggu teman yang sedang belanja di salah satu swalayan di Meulaboh. Pandanganku tertuju pada satu objek yang ‘menarik’, menyentuh. Beberapa anak-anak dengan baju lusuh, kumal dan terlihat daki cukup kentara di seluruh pakaiannya. Berlarian di depan swalayan tidak jauh dari posisiku yang nyander diatas  motor.

Tidak terlihat sedih di wajah mereka, tidak ada muram, yang tertangkap olehku adalah mereka cukup menikmati kondisi mereka. Oops, tidak terhenti disitu. Sebuah perubahan ekspresi terjadi ketika seorang anak lainnya yang turun dari sebuah mobil mewah dituntun seorang bapak yang saya yakin adalah ayah si anak menuju cafe yang bersebelahan dengan swalayan ini. Pandangan anak-anak berbaju lusuh dan kumal itu hampir semua tertuju kesana. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak yang hidup dan mencari kehidupan dijalanan ini,”andai saja aku memiliki orang tua seperti anak itu, pasti aku tidak harus bersahabat dengan debu seperti yang aku jalani ini”.

Aku tatap lamat dan dalam ekspresi iri anak-anak jalanan ini, gurat cerianya seperti telah larut kedalam pikirannya yang mungkin lebih dalam dari yang bisa kuterka saat itu.

Ini adalah potret kota. Tapi nurani takkan berhenti berbicara atas semua gurat gundah anak-anak ini. Ah, negeriku sebenarnya sudah cukup dewasa secara usia. Akankan pertambahan usia negeriku semakin meningkatkan kepedulian bangsanya pada nasib anak-anak itu. Apakah bangsaku hanya bisa berujar singkat dengan pemandangan ini yang memang tertulis di semua kanvas wajah kota,”kasihan”. Sebab, sekedar kasihan takkan mengeyangkan perut-perut mereka. Untai kata kasihan itu takkan membuat anak-anak ini cerdas dan kemudian saat mereka dewasa akan melahirkan generasi yang lebih cerdas. Mereka akan juga melahirkan generasi lemah kelak, 20 tahun yang akan datang. Berapa banyak sudah nurani terketuk dengan pemandangan ini, semoga takkan ada lagi anak bangsa yang sedang berkehidupan lebih baik mengelak dari tanggung jawab ini. Semoga.

Meulaboh, 13 Aug 2008

adapted from:

 http://ficklaotze.wordpress.com

Tan Malaka mengdebat Tuhan dalam bukunya: Madilog. “Kenapa Tuhan membenci makhluk yang Ia ciptakan sendiri?”. Tentu, yang disorot oleh Tan Malaka adalah binatang semisal babi dan anjing yang dalam Islam memang diharamkan.Saya sempat tercenung lama oleh ‘celetukan’ Tan Malaka di buku yang sangat dicari oleh banyak aktifis pergerakan di Indonesia, mungkin sebuah keberuntungan saya bisa membaca buku ini ketika itu. Cuman, yang kemudian saya katakan pada diri sendiri hanya seuntai kalimat sederhana,“cukup pentingkah memperdebatkan hal itu?”

Berbicara Tuhan, merujuk pada pendapat seorang rekan, Saiful Mahdi pada sebuah seminar di PP Cafe tahun lalu, memang bisa memicu perdebatan yang sulit menemukan ujungnya, tidak bisa menjadikan logika sebagai standar kebenaran dalam hal yang satu ini. Berbicara Tuhan memang merupakan pembicaraan pada keyakinan yang tidak bisa di tangkap indra.

Saya sendiri hanya mengatakan, dunia fisik, sesuatu yang bisa diraba dengan fisik adalah hal-hal yang sangat sederhana. Punya batasan dan keterbatasan. Sedangkan dunia kepercayaan adalah lautan yang tidak bertepi. Sehingga, dalam hal kepercayaan, meregang nyawa dalam pertempuran untuk membela keyakinan menjadi hal yang sah saja.

Saya mengulang-ulang pada diri sendiri mengatakan, logika itu masih berada pada tataran yang sangat sederhana—tidak bermakna mengecilkan fungsi logika—, tetapi ada esensi kebenaran yang itu hanya bisa teraba oleh hati dan nurani yang jernih. Socrates, Aristoteles miliki itu. Muhammad, Jesus miliki itu, cuma terkadang kita saja yang telah memenjarakan diri pada hal-hal yang sederhana, maka kemudian fungsi agama sebagai representasi introduksi mazhab Tuhan yang penuh cinta tersamarkan. Iya oleh kita sendiri

Wallaahu a’lam

Ah, kita tidak diberikan yang kita inginkan. Kitapun menulis keluhan di dinding waktu yang terus berjalan.Jika kita hari ini kecewa, itu adalah pilihan kita sebenarnya. Barangkali saja kita belum cerdas dalam melihat sistem kerja alam berhadapan dengan interest kita sebagai manusia. Begitu banyak ambisi, obsesi yang terkadang hanya berkarang di ruang-ruang bernama harapan. Sebagian dari kita memilih mengurung diri, menghindar dari penerimaan pada realitas hingga ada yang bunuh diri, mereka telah menulis tentang Tuhan sebagai sosok Yang Maha Kejam. Entahlah

Pemahaman kepada cara kerja alam tenyata penting, memahami kebijakan Tuhan juga perlu ditelusuri. Kita takkan sampai pada titik intinya mungkin, tetapi sedikit saja pemahaman yang bisa kita rengkuh sebenarnya sudah cukup memadai untuk menghindari kita dari keterpurukan yang terlalu dalam, yang kemudian menyulitkan kita untuk bangkit.

Kembalilah, kembali pada diri, kembali pada penglihatan jujur, kembali pada kerendah hatian bahwa Tuhan memang sangat bijak saat ia berkesimpulan untuk memberikan sebuah keputusan. Bagaimanapun bentuk itu pada awalnya—pilihan Tuhan tersebut—-, suatu hari kita pasti akan mengangguk bahwa memang Ia Maha Cerdas dalam memilih yang terbaik untuk hamba-Nya

Berbicara bangsa, pasti yang terbayang dibenak kita bisa saja beragam. Akan terlihat wajah-wajah kuyu di terminal, ekspresi letih para kondektur, tukang becak yang ’sangar’ karena menahan lapar, sampai ke anak-anak negeri yang berkumis lebih ‘berminyak’. Sembari merenung, sejauh ini raut seperti apakah yang lebih sering terlihat di ujung mata kita?

Itu potret, keluhkan saja itu. Kita confident saja bahwa keluhan itu satu hari kelak akan mengantarkan kita pada ruang kesadaran, bahwa ada sesuatu yang mutlak harus kita kontribusikan untuk memoles kanvas negeri menjadi lebih berseri.

Tidak penting mengumbar tulisan dimana, karena berapa banyak sudah pemikir yang terlahir ditengah-tengah bangsa ini, tetapi lihatlah berapa banyak hal itu memberi sinyal bahwa telah ada perubahan signifikan di negeri ini”, sebait puisi pesimistis tertulis, entah oleh siapa, bisa jadi saya sendiri yang sudah pernah menulis itu.

Namun selanjutnya saya ingin berujar, berapa banyak efek positif yang bisa ditimbulkan dari sebuah sikap pesimis? Nyaris tidak ada bukan.

Nah, ternyata hal seperti inipun menjadi bagian indikator kedewasaan kita. Pada kepekaan, kepedulian, kemauan melihat nurani yang selanjutnya coba ditautkan kepada realitas setiap jengkal wajah negeri, wajah bangsa.

Mari menulis tentang tetangga kita yang masih lapar

taken from: http://ficklaotze.wordpress.com

Santun dan Musium

……Saat engkau belum mampu membahagiakan saudara-saudaramu, janganlah engkau sakiti mereka. Agar kelak tidak menjadi manusia yang dikutuk jiwa-jiwa yang suci

Memang, sering bahwa sikap santun hanya bermain pada tataran imajinasi. Saya sendiri adalah bagian dari orang yang pernah menjadi korban dari imajinasi indah itu.

Bayangkan anda menyapa sesorang dengan ramah, lantas anda justru di semprot, apa yang akan terbetik di benak anda? Sah saja kalau anda amarah menyikapi hal demikian, atau anda barangkali memilih untuk mendiamkannya. Namun, ini menjadi sebuah simbul, kita sedang berada dimana.

Kawan saya mengatakan,”jika sebuah sikap buruk harus dibalas dengan keburukan pula, apa bedanya kita dengan mereka?”.

Kelimat ini terasa sejuk di hati, kendati sempat panas kala menerima keadaan seperti yang saya ilustrasikan di atas.

Ini tentang kita, ini tentang realitas, dan ini tentang sisi-sisi manusiawi yang akan kita temui disekeliling. Mungkin saat di terminal bis, di halte, atau mungkin di acara hajatan tetangga sebelah.

Anyway, kita sedang merangkak pada topik kebesaran jiwa, kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang besar, berjiwa besar, dan sikap kita dalam menghadapi semua itu sebagai indikator. Adalah hal yang nisacaya, salju akan memancarkan aura sejuk, dingin. Mutlak harus diragukan saat onggokan ’salju’ pancarkan hawa panas yang membuat gerah.

Ah, membicarakan hal ini terkadang saya malu sendiri, karena bagaimanapun, tempo hari pernah juga menghadapi hidup dengan ‘wajah sangar’.
Published also in
 http://ficklaotze.wordpress.com/

Older Posts »